Kamis, 30 Juni 2011

sistem Reproduksi


Pendahuluan

Reproduksi adalah suatu proses biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis: seksual dan aseksual.
Reproduksi merupakan proses pembentukan individu baru. Reproduksi dapat terjadi secara generatif dan secara vegetatif. Reproduksi dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu saraf dan hormon, dan juga oleh berbagai faktor luar, seperti suhu lingkungan, makanan, dan fotoperioditas. Pembentukan individu baru secara generatif diawali dengan adanya pembentukan gamet, pembuahan, dan proses perkembangan embrio sehingga individu baru akan muncul melalui proses kelahiran atau penetasan. Mamalia memelihara hewan muda dengan memproduksi air susu, yang proses pembentukaanyaa dikendalikan oleh saraf dan hormon. Masa pemberian air susu kepada mamalia muda dinamakan laktasi.
Proses reproduksi merupakan proses yang membentuk siklus dengan gejala yang mudah diamati, terutama pada hewan betina. Kebanyakan mamalia betina mengalami siklus estrus, tetapi primata mengalami siklus menstrual. Hormon yang mengendalikan proses reproduksi dinamakan hormon gonadoprotin, yang pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu LH dan FSH. Kedua hormon tersebut dihasilkan dari kelenjar pituitari bagian depan dan pengeluarannya dikendalikan oleh Gn-RH dari Hipotalamus.




SISTEM REPRODUKSI HEWAN

Cara berkembang biak Planaria sp. (cacing pipih). Anak terbentuk dari induk yang  mengalami pembelahan sel (fragmentasi). Karena tidak ada sel kelamin yang terlibat maka disebut reproduksi aseksual.

Reproduksi Pada Hewan Invertebrata
bisa terjadi secara seksual (melibatkan sel kelamin) maupun aseksual (tidak melibatkan)
Reproduksi aseksual/vegetative meliputi :

1.      Fragmentasi yaitu pemisahan salah satu bagian tubuh yang kemudian dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu baru. Contohnya Planaria sp dan Asterias sp.
2.      Budding/tunas/gemmulae yaitu pembentukan tonjolan pada salah satu bagian tubuh hewan dan adapat berkembang menjadi individu baru. Contohnya hewan Acropora sp dan Euspongia sp.

3.      Fisi yaitu pembelahan sel pada sel induk dan hasilnya akan berkembang menjadi individu baru. Dibedakanmenjadi 2 yaitu pembelahan biner, contohnya pada Bakteri dan pembelahan multiple paada Virus.


4.      Sporulasi yaitu dengan dibentuknya spora pada sel indukdan akhirnya spora akan berkembang menjadi individu baru. Contohnya pada Plasmodium sp

5.      Parthenogenesis yaitu terbentuknya individu baru melalui sel telur yang tanpa dibuahi. Contohnya lebah madu jantan, semut jantan dan belalang. Paedogenesis yaitu terbentuknya individu baru langsung dari larva/nimpha. Contohnya pada Class Trematoda/cacing isap yaitu Fasciola hepatica dan Clonorchis sinensis.



Reproduksi seksual/generative:

1.      Konjugasi yaitu persatuan antara dua individu yang belum mengalami spesialisasi sex. Terjadi persatuan inti (kariogami) dan sitoplasma (plasmogami). Contohnya pada Paramaecium sp.

2.      Fusi yaitu persatuan/peleburan duya macam gamet yang belum dapat dibedakan jenisnya. Dibedakan menjadi 3 macam yaitu :


3.      Isogami yaitu persatuan dua macam gamet yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya pada Phyllum Protozoa.

4.      Anisogami yaitu persatuan dua macam gamet yang berbeda ukuran dan bentuknya sama. Contohnya Chlamydomonas sp.


5.      Oogami yaitu persatuan dua macam gamet yang memiliki ukuran dan bentuk yang tidak sama. Contohnya pada Hydra sp.

Reproduksi Pada Vertebrata

1.      Class Pisces yaitu dengan ovipar dan secara fertilisasi eksternal, ovovivipar dan vivipar. Organa reproduksinya meliputi testis, vas deferens, lubang urogenitalia untuk jantan dan untuk betina adalah ovarium, oviduk dan lubang urogenitalia.

2.      Class Amphibia yairu dengan fertilisasi eksternal. Organ reproduksinya meliputi testis, vasa efferentia dan kloakauntuk jantan dan untuk betina yaitu ovarium, oviduk dan kloaka.


3.      Class Reptilia yaitu dengan fertilisasi internal. Organ reproduksinya meliputi testis, hemipenis, vas deferens, epididimis dan kloaka. Untuk betina yaitu ovarium, oviduk dan kloaka.

4.      Class Aves yaitu dengan fertilisasi internal. Organ reproduksi bagi yang jantan yaitu testis, vas deferens dan kloaka. Untuk yang betina meliputi ovarium kiri, oviduk, dan kloaka.


5.      Class Mammalia yaitu dengan fertilisasi internal. Organ reproduksi jantan meliputi penis, vas deferens, testis dan anus. Untuk yang betina meliputi ovarium, oviduk, uterus dan anus. Memiliki sistem menstruasi yang disebut dengan fase estrus serta tipe uterus yang kompleks.




















A.      Mekanisme Reproduksi.
Mekanisme Reproduksi terbagi menjadi 2 bagian:
1.    Reproduksi Aseksual.
Konsep reproduksi Aseksual tidak dapat didefinisikan dengan tepat (karena terlalu banyak variasi), tetapi jelas bahwa proses ini tidak berkaitan dengan proses pembentukan gamet.

Reproduksi aseksual dapat berlangsung dengan cara :
a.    Pembelahan.
Reproduksi dengan pembelahan sel antara lain terjadi pada Protozoa dan Amoeba. Apabila proses pembelahan menghasilkan sel anakan yang sama besarnya, proses tersebut dinamakan pembelahan biner. Pembelahan biner merupakan proses yang melibatkan pembelahan kromosom secara mitosis sehingga menghasilkan dua sel anakan yang memiliki jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induk. Apabila sel anakan yang diperoleh tidak sama besar, proses pembelahan dapat dinamakan pembagian atau fragmentasi.
Proses fragmentasi akan memberikan hasil pembagian (individu baru) yang tidak mempunyai struktur tertentu. Contoh, pembelahan yang terjadi pada hidra dan poliseta. Aurelia melakukan fragmentasi dengan cara membentuk medusa.

b.    Gemasi atau budding atau bertunas
Merupakan proses pembentukan individu baru yang biasanya dimaksudkan untuk menambah koloni. Gemasi sulit dibedakan dari fragmentasi. Dalam hal ini, tunas yang terbentuk berukurn lebih kecil daripada induknya, terletak disamping (lateral) dan dibentuk dari sekelompok sel embrional. Pembentukan tunas samping pada tubuh hidra akan terjadi jika pasokan atau ketersediaan makanan di lingkungannya dalam keadaan baik.




c.    Reproduksi seksual.
Reproduksi seksual dicirikan dengan bersatunya gamet jantan dan betina melalui proses fertilisasi atau singami.
Secara umum, perkembangbiakan hewan ada tiga macam:
1.        Beranak atau melahirkan (vivipar), Embrio berkembang dalam uterus, contohnya Hewan mamalia.
2.        Bertelur (ovipar), Embrio berkembang di dalam telur , contohnya Kelompok Unggas dan pisces
3.        Mengembangkan telur di dalam badan induknya, tetapi embrio tidak mendapatkan makanan dari induknya  atau Embrio berkembang didalam telur yang diinkubasi dalam tubuh. (ovovivipar), contohnya Ikan hiu.
1.    Berkembang biak secara melahirkan (vivipar).
Perkembang biakan secara melahirkan (vivipar), untuk dapat menghasilkan individu baru, ovum harus dibuahi oleh sperma (kecuali pada peristiwa partogenesis), yang biasanya terjadi melalui proses  pembuahan atau fertilisasi. Pembuahan yaitu penyatuan antara sel gamet (sel kelamin) jantan dan betina. Proses tersebut akan menghasilkan zigot.
Pembuahan dapat terjadi di luar tubuh (disebut fertilisasi eksternal) atau di dalam tubuh induk betina (disebut fertilisasi internal). Berkaitan dengan hal tersebut, zigot ada yang berkembang di dalam ataupun di luar tubuh induk.
Apabila zigot berkembang di dalam tubuh induk, hewan muda akan keluar dari tubuh induk melalui proses melahirkan. Hewan yang berkembang biak (menghasilkan keturunan) dengan cara melahirkan dinamakan hewan bersifat vivipar. Pada vivipar, makanan yang diperlukan untuk perkembangan embrio dapat diperoleh dari tubuh induk melalui organ khusus yang disebut plasenta.
Hewan vivipar di dalam tubuhnya mengandung embrio yang sedang berkembang dinamakan bunting. Istilah bunting atau kebuntingan biasanya digunakan untuk hewan, sedangkan manusia biasanya digunakan istilah hamil/kehamilan. Kebuntingan (kehamilan/pregnansi) akan terjadi apabila ovum yang diovulasikan dapat dibuahi oleh sperma, serta mengalamiperkembangan lebih lanjut melalui tahap blastula, gastrula, dan seterusnya. Apabila perkembangan embrio telah telah selesai, hewan muda akan keluar dari tubuh induk.
Contoh hewan vivipar:

·  Anjing

Kehamilan anjing berlangsung selama ± 9 minggu. Anjing yang bertubuh kecil mampu melahirkan 1-4 anak anjing, anjing yang berukuran sedang mampu melahirkan 4-8, dan anjing yang bertubuh besar mampu melahirkan antara 6-10 anak.Setelah lahir, anak anjing belum dapatmelihat pada 10-15 hari pertama.
Normalnya, anak anjing mulai belajar berjalan pada minggu kedua dan dapat berjalan dengan baik pada minggu ketiga setelah lahir. Selama waktu itu, induk anjing akan selalu berada di dekatnya untuk menyusui dan memeliharanya.
Pengeluaran individu anjing baru dari tubuh induknya dinamakan kelahiran/pasturisi. Proses tersebut diawali dengan adanya relaksin, senyawa kimia yang dikeluarakan oleh plasenta. Relaksin sangat diperlukan untuk meningkatkan keluwesan (fleksibilitas) jaringan di daerah panggul (pelvis) dan pelebaran mulut rahim serta leher rahim (serviks uterus/jalan lahir). Pelebaran (dilatasi) serviks merupakan salah satu faktor yang akan menghasilkan refleks pengeluaran hormon oktiosin dari hipotalamus (melalui hipofisis bagian belakang). Selanjutnya, oktiosin akan merangsang otot rahim untuk berkontraksi sehingga individu muda terdorong ke jalan lahir. Turunnya individu muda ke jalan lahir akan menyebabkan serviks atau dinding vagina juga semakin menegang.
Hal ini mendorong refleks pengeluaran oktiosin dalam jumlah yang lebih banyak sehingga kontrakasi dinding uterus pun semakin kuat. Keadaan demikian terus berlangsung, sampai akhirnya hewan muda terdorong sepenuhnya dari rahim. Dalam proses tersebut, tubuh induk akan mengeluarkan individu muda beserta plasentanya.
Berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran, induk betina akan mengalami perubahan pada kelenjar susunya sehingga dapat menghasilkan air susu. Air susu sangat di butuhkan oleh hewan muda sebagai sumber makanan utama pada awal hidupnya. Masa pemberian air susu kepada hewan muda dinamakan masa laktasi.
Pembentukan  air susu dikendalikan oleh hormon prolaktin dari pituitari bagian depan, yang pengeluarannya di rangsang oleh berbagai faktor, antara lain adanya isapan/pijatan pada puting susu, kontraksi otot polos disekitar sel kelenjar air susu, dan kontraksi otot lurik di daerah dada. Bahkan, rangsang psikis seperti mendengar tangisan bayi pun dapat merangsang pengeluaran oktiosin, yang memacu kontraksi otot pada kelenjar susu. Hal ini selanjutnya akan mendorong pengeluaran air susu
Jadi pengeluaran air susu dari kelenjarnya akibat oktiosin sesungguhnya terjadi karena oktiosin memacu kontraksi otot polos pada kelenjar air susu sehingga kelenjar mengerut dan air susu memancar keluar.

Siklus estrus dan menstrual.
Proses pemasakan telur (ovum) yang terjadi pada mamalia telah dipahami dengan lebih baik daripada pemasakan telur yang terjadi pada hewan lain. Proses pemasakan telur pda hakikatnya merupakan peristiwa yang membentuk siklus. Siklus pemasakan telur pada kebanyakan mamalia di sebut siklus estrus, sedangkan siklus pada primata di sebut siklus menstrual. Kedua siklus tersebut memperlihatkan adanya perbedaan.
Pada hewan yang mengalami siklus estrus, selama satu siklus hewan betina siap menerima hewan jantan untuk kawin hanya dalam waktu yang singkat, yaitu pada masa ovulasi. Selain itu, dinding pada saluran reproduksi pada akhir siklus tidak mengalami disintegrasi dan tidak luruh sehinnga tidak ada pendarahan. Siklus estrus terdiri atas empat tahap/ fase, yaitu tahap diestrus, proestrus, estrus, metestrus. Tahapan/fase yang dialami hewan dapat dikenali dari gambaran sel yang diperoleh melalui hasil apatus vagina.
Pada hewan yang mengalami siklus menstrual, setiap saat di sepanjang siklus hewan betina siap menerima hewan jantan untuk kawin, sekalipun ovum baru dilepaskan kira-kira pertengahan siklus. Dalam tubuh hewan betina, ovum mampu bertahan hidup dalam keadaan baik dan setiap dibuahai hinnga 72-96 jam setelah ovulasi. Pada hewan ini selama siklus menstrual dapat ditemukan berbagai perubahan di dalam tubuh dan organ reproduksinya. Perubahan yang di maksud meliputi perubahan keadaan ovarium, rahim (ketebalan endometrium), dan tingkat hormon reproduktif di dalam darah.

1.    Berkembang biak secara bertelur (ovipar).

Jika ovum dibuahi di luar tubuh induk, embrio pada umumnya berkembang di luar tubuh induk juga. Dalam keaadaan demikian, embrio memeperoleh seluruh makanan yang diperlukan dari cadangan makanan yang tersedia di dalam ovum/telur. Namun, kondisi lingkungan di luar tubuh hewan seringkali tidak sesuai dengan kondisi yang diperlukan untuk perkembangan embrio yang maksimal. Untuk itu, induk hewan pada umumnya menyiapkan sarang khusus untuk menyimpan dan mengerami telur mereka.
Dengan demikian, tercipta keadaan lingkungan yang mendukung pembentukan individu baru. Di dalam telur yang dierami atau disimpan di dalam sarang, embrio berkembang di dalam bungkus telur yang biasanya terdiri atas beberapa lapis.
Hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur inilah dinamakan hewan bersifat ovipar. Apabila perkembangan embrio telah selesai, hewan muda akan keluar dari dalam cangkang/ bungkus telur melalui proses menetas.

Contoh hewan ovipar:

·       Penguin

Penguin mengerami telurnya ketika cuaca sangat sejuk. Tidak seperti makhluk lain, bukan penguin betina yang mengerami tetapi si jantan. Penguin betina hanya bertelur sebiji dan kemudian meninggalkannya kepada penguin jantan. Ia berjalan jauh untuk mendapatkan makanan kepada suami dan anaknya. Karana mereka dikelilingi es dan salju, ia perlu berjalan jauh untuk mendapatkan makanan.


Penguin jantan mengeram telurnya selama empat bulan penuh. Ia membawa telur ini di antara kedua kakinya dan sepanjang empat bulan ini, ia sekali pun tidak pernah meninggalkan telur ini. Jika ia melakukannya, telur tersebut akan membeku dan mati di dalam beberapa menit saja.
Penguin jantan ini begitu sabar, sehinggakan sepanjang empat bulan ini ia bergerak dengan telur berada di antara kedua kakinya. Kerana itulah ia tidak dapat berburu dan sentiasa lapar. Cuaca sangat sejuk. Jika cuaca menjadi terlalu sejuk, penguin-penguin jantan akan berkumpul bersama walaupun mereka mambawa telur di kaki mereka.


Mereka menghampiri satu sama lain, membentuk bulatan, dan dengan cara ini, dapat memanaskan diri mereka. Mereka bertukar kedudukan supaya penguin yang berada di luar bulatan akan merasa panas juga. Apabila telur tersebut hampir menetas, ibu penguin pulang daritempat berburu. Ia memberi makan kepada anak kecilnya dengan makanan yang disimpan di dalam temboloknya. Untuk mencegah bayi tersebut dari dingin, ibu bapanya membawanya di antara kaki mereka dan memanaskan badannya dengan tubuh mereka.

·  Ular

Ular adalah hewan ovipar, jadi berkembang biak dengan bertelur.


Ada beberapa spesies ular/reptil yang menyimpan/mengerami telur dalam perutnya, sehingga saat bayi ular lahir dan keluar nampak seperti si ular sedang melahirkan.
Dalam gambar itu sebenarnya kalo dilihat lebih cermat lagi, akan terlihat yang keluar adalah bayi ular yang masih terbungkus membran bening. Membran itu sebenarnya adalah cangkang yang tidak mengeras karena disimpan dalam perut ular

·  Penyu

 Ada dua jenis penyu, yaitu yang hidup di air (turtle) yang kakinya menyerupai sirip untuk berenang. Contoh penyu jenis ini adalah penyu hijau. Penyu yang hidup di darat (kura-kura atau tortoise) memiliki kaki yang kuat. Kura-kura memasukkan kepala ke dalam cangkangnya yang keras ketika merasa terancam. Penyu termasuk ke dalam kelas reprilia.

·  Penyu Laut
Penyu telah mengalami beberapa adaptasi untuk dapat hidup di laut, diantaranya yaitu dengan adanya tangan dan kaki yang berbentuk seperti sirip dan bentuk tubuh yang lebih ramping untuk memudahkan mereka berenang di air. Penyu laut juga memiliki kemampuan untuk mengeluarkan garam-garam air laut yang ikut tertelan bersama makanan yang mereka makan dan juga kemampuan untuk tinggal di dalam air dalam waktu yang lama selama kurang lebih 20-30 menit. Telinga penyu laut tidak dapat dilihat, tetapi mereka memiliki gendang telinga yang dilindungi oleh kulit. Penyu laut dapat mendengar suara-suara dengan frekuensi rendah dengan sangat baik dan daya penciuman mereka juga mengagumkan. Mereka juga dapat melihan dengan sanghat baik di dalam air. Penyu laut memiliki cangkang yang melindungi tubuh mereka dari pemangsa.


Penyu laut berbeda dengan kura-kura. Apabila dilihat sepintas, mereka memang terlihat sama. Ciri yang paling khas yang membedakan penyu laut dengan kura-kura yaitu bahwa penyu laut tidak dapat menarik kepalanya ke dalam apabila merasa terancam.
Perkembangbiakan
Penyu membutuhkan kurang lebih 15-50 tahun untuk dapat melakukan perkawinan. Selama masa kawin, penyu laut jantan menarik perhatian betinanya dengan menggosok-gosokkan kepalanya atau menggigit leher sang betina. Sang jantan kemudian mengaitkan tubuhnya ke bagian belakang cangkang si betina. Kemudian ia melipat ekornya yang panjang ke bawah cangkang betina. Beberapa jantan dapat saling berkompetisi untuk merebut perhatian si betina. Hanya penyu laut betina yang pergi ke pantai untuk bersarang dan menetaskan telurnya. Penyu laut jantan jarang sekali kembali ke pantai setelah mereka menetas. Penyu laut pergi untuk menetaskan telurnya ke pantai dimana mereka dulu dilahirkan.
Penyu betina naik ke pantai untuk bertelur. Dengan kaki depannya, mereka menggali lubang untuk meletakkan telur-telurnya. Kemudian mereka mengisi lubang itu dengan telur-telurnya sebanyak kurang lebih 100 butir (bahkan mungkin lebih). Kemudian mereka dengan hati-hati menutup kembali lubang tersebut dengan pasir dan meratakan pasir tersebut untuk menyembunyikan atau menyamarkan letak lubang telurnya. Setelah proses melelahkan ini selama kurang lebih 1-3 jam berakhir, mereka kembali ke laut.
Penyu umumnya lambat dan canggung apabila berada di darat, dan bertelur adalah hal yang sangat melelahkan, Penyu yang sedang bertelur sering terlihat mengeluarkan air mata, padahal sebenarnya mereka mengeluarkan garam-garam yang berlebihan di dalam tubuhnya. Beberapa penyu dapat menghentikan proses bertelur apabila mereka terganggu atau merasa dalam bahaya. Oleh karena itu, sangat penting diketahui bahwa jangan mengganggu penyu yang sedang bertelur.
1.    Berkembang biak secara ovovivipar.
Selain golongan ovipar dan vivipar, kita juga mengenal adanya hewan yang memperlihatkan gejala khusus yang merupakan perpaduan antara keduanya. Golongan hewan ini disebut ovovivipar. Hewan ovovivipar menyimpan telur di suatu tempat pada tubuhnya, yang juga merupakan tempat berlangsungnya pembuahan, sekaligus tempat berlangsungnya perkembangan embrio.
Pada hewan ini, makanan yang diperlukan untuk perkembangan embrio sepenuhnya diperoleh dari telur (tidak dari tubuh induk), sekalipun embrio berkembang dalam tubuh induk. Apabila sudah mencapai perkembangan yang memadai, hewan muda akan dikeluarkan dari tubuh induk, seperti yang tampak pada hewan vivipar.

Contoh hewan ovovivipar :
Hiu merupakan salah satu hewan yang berkembang secara ovovivipar. Hiu jantan membuahi telur dengan cara melepas sperma ke dalam tubuh betina, dan akhirnya melahirkan. Kira-kira 40 spesies yang menetaskan telur di luar tubuh betina. Anak-anak hiu tidak dipelihara induknya, bahkan beberapa induk justru memakannya.




BILBIOGRAFI

J  Isnaeni, Wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Yogyakarta:Kanisius
J  http://wandi2305.wordpress.com/2010/11/
J  Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.  Jakarta: PT Gramedia.
J  Suripto. 2006. Fisiologi Hewan. Bandung:  ITB.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar